Grid Hot - Seputar peristiwa terkini

5 Fakta Ali Kalora, Pimpinan Teroris Poso yang Tega Mutilasi Warga Sipil dan Jadi Orang Paling Diburu Satgas Tinombala

Rabu, 02 Januari 2019 | 17:17
Grid Networks Ali Kalora dan Foto Dokumentasi Apel Pasukan BKO Brimob Kelapa Dua Mabes Polri Untuk Operasi Tinombala 2017
Tribun Timur via Handover/Kompas (Mansur K103-15)

Ali Kalora dan Foto Dokumentasi Apel Pasukan BKO Brimob Kelapa Dua Mabes Polri Untuk Operasi Tinombala 2017

Laporan wartawan GridHot.ID, Dewi Lusmawati

GridHot.ID -Kontak tembak aparat kepolisian dengan kelompok teroris Poso pimpinan Ali Kalora terjadi pada 31 Desember 2018.

Nama Ali Kalora tengah ramai diperbincangkan di dunia maya.

Sosok Ali Kalora yang kontroversional menjadi perbincangan banyak pihak lantaran ia disebut-sebut sebagai pemimpin kelompok teroris Poso.

Baca Juga : 3 Bulan Disandera Kelompok Teroris Abu Sayyaf, Hamdan Yunus Cium Tangan dan Kaki Warga yang Membantunya Melarikan Diri

Bahkan Ali Kalora dikatakan sebagai orang paling dicari di Parigi Muotong, Sulawesi Tengah.

Ali Kalora yang merupakan 'Bos' kelompok teroris Poso kini diburu oleh Tim Satgas Tinombala.

Tak hanya Satgas Tinombala, bahkan Brimob juga dikerahkan untuk memburu Ali Kalora.

Baca Juga : Densus 88 Bekuk Terduga Teroris di Sleman yang Saban Harinya Jualan Kebab

Dikutip GridHot.ID dari berbagai sumber, berikut 5 fakta Ali Kalora, pimpinan teroris Poso yang tega memutilasi warga Toraja hingga jadi orang paling diburu Satgas Tinombala.

1. Tega Memutilasi Warga Toraja

Dikutip dari Tribun Timur, Ronal Batua alias Anang (39), adalah seorang warga sipil korban mutilasi di kawasan Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulteng.

Jenazah Ronal Batua alias Anang (39) korban mutilasi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dievakuasi ke kampung halamannya, Senin (31/12/2018).

Jenazah diangkut menuju kampung halamannya di Kampung Marrang, Kelurahan Tampo, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, Sulsel, menggunakan mobil ambulans milik Puskesmas Desa Sausu Taliabo sekitar pukul 16.30 wita.

Jenazah diantar menuju kampung halaman ditemani oleh Kepala Desa Salubanga, Herman Ruruk.

Baca Juga : Kepergok Bawa Uang Banyak, Hotman Paris Dikira Teroris Sampai Ditangkap Polisi Saat Liburan di Milan

Korban yang akrab disapa Anang itu, kesehariannya bekerja sebagai penambang emas tradisional di Desa Salubanga.

Grid Networks Jenazah Ronal Batua alias Anang, korban mutilasi kelompok teroris Poso pimpinan Ali Kalora
TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ
TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ

Jenazah Ronal Batua alias Anang, korban mutilasi kelompok teroris Poso pimpinan Ali Kalora

Sebelumnya, Anang ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Kepala dan badanya ditemukan terpisah berjarak puluhan meter.

Saksi bernama Acok yang merupakan warga Dusun Salubose, turun menuju Kecamatan Sausu untuk menjual coklat.

Baca Juga : Sepak Terjang Calon Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo, Prajurit Kopassus Kenyang Pengalaman Tempur

Namun saat melintasi Dusun Salubose, tepatnya di atas jembatan kayu, saksi melihat kepala manusia tanpa badan yang disimpan tepat di atas jembatan tersebut.

Awalnya, saksi menyangka hanya kepala boneka yang sengaja disimpan di atas jembatan untuk menakuti warga.

Setelah memeriksanya, saksi merasa kaget karena banyak darah di sekitar kepala tersebut.

Karena merasa takut, saksi mengurungkan niat ke Sausu dan langsung kembali ke Dusun Manggal Api, Desa Salubanga, untuk melaporkan kejadian itu kepada warga.

Baca Juga : Kisah Dua Personel TNI berada di Tengah Hujan Peluru Pertempuran Pasukan Israel Melawan Lebanon

TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ
TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ

Aparat kepolisian saat memindahkan jenazah korban mutilasi kelompok teroris Poso pimpinan Ali Kalora

Setelah mendapatkan laporan dari warga Desa Salubanga bernama Oge, personel Polsek Sausu langsung menuju ke lokasi ditemukannya potongan kepala tersebut.

Dilansir Kompas.com, Polri menduga pelaku pembunuhan dan mutilasi terhadap penambang emas tersebut adalah kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Kelompok tersebut sebelumnya dipimpin Santoso yang tewas setelah baku tembak dengan polisi beberapa tahun silam.

Ali Kalora disebut polisi pengganti Santoso.

Baca Juga : Ada Penampakan Tak Biasa di Dasar Laut Selat Sunda Usai Tsunami Gunung Anak Krakatau, TNI AL: Muncul Cekungan Kawah Menyerupai Teluk

“Pelaku adalah kelompok DPO (Daftar Pencarian Orang) MIT Poso yang dipimpin Ali Kalora cs,” kata Kepala Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (31/12/2018).

Kompas/ Reza Jurnaliston
Kompas/ Reza Jurnaliston

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018).

Dedi mengatakan, korban RB ditemukan tewas dengan kepala dan tubuh terpisah.

Kepala korban ditemukan di sebuah jembatan di Salubose, Desa Salubanga, pada Minggu (30/12/2018).

“Petugas melakukan pengecekan, koordinasi dengan kepala desa, ternyata benar diketemukan, mohon maaf, sebuah kepala diletakan di atas jembatan. Petugas berhasil mengidentifikasi korban atas nama RB alias A (34). Yang bersangkutan pekerja di ladang sekitar desa tersebut,” kata Dedi.

Setelah mengevakuasi kepala korban, Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus mencoba menemukan bagian badan korban tersebut.

Baca Juga : Bertahan Dengan Makan Sampah Laut, Korban Tsunami ini Ditemukan TNI AL Setelah Terdampar 9 Hari

Polisi akhirnya menemukan tubuh korban agak jauh dari lokasi ditemukannya kepala.

2. Menembak 2 Anggota Polisi

Dua anggota polisi tertembak di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (31/12/2018).

Penembak diduga dilakukan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Diketahui identitas anggota tertembak yakni Bripka Andrew Maha Putra dan Bripda Baso.

Keduanya tengah membawa jenazah Ronal Batua alias Anang (39), warga sipil korban mutilasi di kawasan Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulteng.

Baca Juga : Kronologi Penembakan Anggota TNI AD Letkol Dono, Masih Sempat Kejar-kejaran dengan Pelaku Selama 15 Menit hingga Warga Dengar Suara Tembakan

Penembakan dilakukan saat salah seorang petugas hendak menyingkirkan kayu dan ranting pohon yang menghalangi jalan.

Kontak tembak aparat dengan kelompok teroris tak terhindarkan sehingga Bripka Andrew dan Bripda Baso terluka.

Baso yang membonceng Bripka Andrew turun membersihkan ranting tersebut guna membuka akses jalan.

Saat itulah, serangan datang dari kelompok yang diduga teroris.

Baca Juga : Rayakan Natal Bersama Masyarakat, Pendeta Papua : Kami Meminta Agar TNI-Polri Terus Bertugas Menjaga Daerah Kami dari Gangguan KKB

“Setelah Bripda Baso turun dari kendaraan langsung di tembak dari arah belakang kiri (posisi ketinggian) dan mengenai bahu sebelah kiri dan bokong,” tutur Dedi.

Melihat temannya ditembaki, Bripka Andrew berupaya memberikan perlawanan dengan tembakan balasan.

Namun Bripka Andrew terlebih dulu terkena tembakan di bagian punggung sebelah kiri atas, dan punggung sebelah kanan serta kaki kanan hingga mengalami patah tulang.

Lebih lanjut, kata Dedi, polisi melawan dengan menembak balasan ke arah punggung gunung dan lereng gunung. Polisi berupaya mengejar pelaku penembakan.

Baca Juga : Demi Hilangkan Jejak, KKB Papua Nekat Bakar Tubuh Anggotanya Sendiri yang Tewas Tertembak TNI

“Teman-teman yang di belakang kurang lebih 15 orang turun juga langsung melakukan pengejaran dan penembakan. Para pelaku melarikan diri ke atas gunung,” tutur Dedi.

Setelah selama kurang lebih 30 menit bertahan di lokasi, tim dapat mengevakuasi dua anggota yang terkena tembakan dan langsung menuju Puskesmas Sausu untuk mendapatkan pertolongan pertama.

TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ
TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ

Suasana di Puskesmas Sausu, Jl Trans Sulawesi, Desa Sausu Trans, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (31/12/2018). Dua aparat kepolisian menjadi korban setelah kontak senjata dengan kelompok sipil bersenjata.

Dua polisi yang terluka akibat terkena tembakan saat kontak senjata dengan kelompok MIT masih dirawat di RS Bhayangkara Palu.

Dilaporkan Kompas TV, Rabu (2/1/2019), setelah operasi pengangkatan proyektil, kondisi Bripda Baso dan Bripka Andrew mulai membaik.

Baca Juga : Aneh! Gubernur dan DPR Papua Justru Minta TNI Ditarik, Kodam Cendrawasih: yang Merasa Terganggu Adalah Pelaku Kejahatan Berlumur Dosa

Saat ini keduanya telah dipindahkan ke ruang perawatan RS Bhayangkara Palu.

3. Pimpinan Teroris Poso Pengganti Santoso

Ali Kalora alias Ali Ahmad merupakan pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Ali lahir di Kalora, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah.

Tribun Timur via Handover
Tribun Timur via Handover

Ali Kalora

Nama 'Kalora' di namanya, diambil dari wilayah tempatnya dilahirkan, sehingga nama Ali Kalora seringkali digunakan di media massa.

Pada 18 Juli 2016, setelah kematian Santoso, Ali Kalora diduga menggantikan posisi Santoso sebagai pemimpin di kelompok MIT bersama dengan Basri.

Baca Juga : Suku Uyghur, Kelompok Etnis Muslim China yang Dicari di Dunia Permodelan

Setelah Basri ditangkap Satgas Tinombala, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menetapkan Ali Kalora adalah target utama dari Operasi Tinombala.

4. Istrinya Ditangkap Saat Hamil 8 Bulan

Ali Kalora memiliki seorang istri yang bernama Tini Susantika, alias Umi Farel.

Perempuan ini ditangkap Satgas Tinombala dalam keadaan hamil delapan bulan.

Baca Juga : Panglima TPNPB-OPM Goliat Tabuni Pernah Sampaikan Bakal Bantai Orang Asli Papua Barat yang Dinilai Pro TNI-Polri

Istri Ali Kalora ditangkap di daerah Poso Kota, Sulawesi Tengah, 11 Oktober 2016 lalu.

5. Orang Paling Diburu Satgas Tinombala

Tim Satgas Tinombala dibantu Brimob masih mengejar kelompok teroris Poso pimpinan Ali Kalora.

Kompas/Mansur K103-15
Kompas/Mansur K103-15

Foto Dokumentasi Apel Pasukan BKO Brimob Kelapa Dua Mabes Polri Untuk Operasi Tinombala 2017

Polisi mengimbau agar sisa anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, pimpinan Ali Kalora tersebut menyerahkan diri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, Polri melalui Satuan Tugas (Satgas) Tinombala Polda Sulawesi Tengah masih mengejar tujuh anggota MIT.

Baca Juga : Soal Penyerangan Polsek Ciracas, Kapendam Jaya: Cepak Belum Tentu Anggota TNI...

“Mereka (Kelompok MIT) yang aktif di hutan dan terus dikejar oleh Satgas dan diimbau untuk menyerahkan diri,” kata Dedi dikutip dari Kompas.com, Rabu (2/1/2019).

Ketujuh orang itu adalah Ali Kalora alias Ali Ahmad, Qatar alias Farel, Abu Alim, Kholid, M Faisal alis Namnung, Nae alias Galuh, dan Basir alias Romzi.

Dedi mengatakan untuk melakukan operasi penegakan hukum terhadap kelompok MIT, polisi mengerahkan dua satuan setingkat peleton (SST) atau 120 personel Brimob.

Pasukan ini akan membantu Polres Parigi Moutong. “Penegakan hukum saat ini Satgas berupaya laksanakan upaya paksa, berupa penangkapan, setelah itu baru proses sidik sampai pelimpahan BAP ke Jaksa Penuntut Umum (JPU),” ujar Dedi.

Baca Juga : Soal Penyerangan Polsek Ciracas, Kapendam Jaya: Cepak Belum Tentu Anggota TNI...

Dedi mengungkapkan bahwa saat ini polisi telah menguasai lokasi tempat penembakan dua anggota polisi setelah baku tembak dengan kelompok itu.

Dalam pengejaran itu polisi menemukan beberapa barang bukti di lokasi.

Barang atau benda yang diamankan di antaranya tiga bom lontong, satu teropong siang, tiga sendok makan, tiga toples plastik kecil berisikan sembilan biji buah kurma dicampur kue, dua amunisi aktif kaliber 5,56.

Baca Juga : Ketika Anggota TNI Ditantang Oleh Sesorang, Ternyata Begini Balasannya

Selain itu tujuh selongsong amunisi kaliber 5,56, satu baju kaos berkerah, satu sebo warna hitam, tiga botol air mineral, dan empat jeriken kosong isi dua liter.

Polisi juga menemukan satu sepeda motor Suzuki 250 cc milik korban Bripka Andrew yang berboncengan dengan Bripda Baso.

Operasi Tinombala sendiri adalah operasi yang dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada tahun 2016 di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Operasi ini melibatkan satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus yang tergabung dalam Satgas Tinombala.

Baca Juga : Deretan 7 Sniper Tersohor Dunia, Ada Nama Tentara Indonesia di Dalamnya

Menurut TNI dan Polri, Operasi Tinombala berhasil membatasi ruang gerak kelompok Santoso dan membuat mereka berada dalam kondisi "terjepit dan kelaparan".

Pada tanggal 18 Juli 2016, Santoso alias Abu Wardah tewas ditembak oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala setelah terjadinya baku tembak di wilayah desa Tambarana.(*)

Tag

Editor : Dewi Lusmawati

Sumber wikipedia, kompas, Tribun Timur, antaranews.com