Grid Hot - Seputar peristiwa terkini

Dapat Sindiran Dari Komikus Jepang, PT MRT Jakarta Klaim Pembayaran Hutang Akan Lunas dalam Jangka 40 Tahun

Rabu, 10 April 2019 | 07:59
Grid Networks MRT Jakarta
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

MRT Jakarta

Laporan Wartawan GridHot.ID, Siti Nur Qasanah

GridHot.ID - Proyek Moda Raya Terpadu (MRT) yang dibangun di Jakarta pernah disindir oleh komikus asal Jepang Onan Hiroshi.

Onan menyindir proyek MRT itu lewat coretan gambar yang diunggah di situs web onanhiroshi.com.

Dalam coretan gambar tersebut, Onan menyentil Pemerintah Indonesia agar segera melunasi utang pembangunan MRT terhadap pemerintah Jepang.

Baca Juga : Kakinya Terperosok di Celah MRT, Wanita Ini Tak Segera Ditolong Malah Penumpang Sibuk Mengabadikannya

Onan bahkan menyematkan kutipan "Dear, Indonesia Gov, please pay! For Japan reward".

Komik itu menggambarkan dua orang Jepang dari Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) yang mengenakan jas dan helm proyek berwarna kuning menagih utang kepada MRT Jakarta.

Namun, pihak MRT Jakarta dan pemerintah enggan membayar.

Baca Juga : Alasan PT MRT Jakarta Larang Gerai Makanan Area Stasiun Jual Mie Instan Langsung Seduh

Komik tersebut juga menggambarkan sosok Presiden Joko Widodo yang dieluk-elukan terkait prestasinya membangun MRT.

Alhasil, komik yang awalnya hanya diunggah di website pribadi Onan itu menjadi viral karena tersebar di media sosial.

Grid Networks Coretan gambar komikus asal Jepang Onan Hiroshi yang menyindir hutang PT MRT Jakarta
Instagram
Instagram

Coretan gambar komikus asal Jepang Onan Hiroshi yang menyindir hutang PT MRT Jakarta

PT MRT klaim tak ada keterlambatan pembayaran

Menanggapi sindiran Onan, PT MRT Jakarta menyayangkan adanya komik tersebut.

Baca Juga : Tanpa Rasa Jijik Sedikitpun, Kelima SIswi SMP Ini Bersihkan Semua Sampah di MRT

Division Head Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin menyebutkan, masalah pembayaran sudah diatur antara Pemerintan Indonesia dan Jepang.

"Iya jadi menyayangkan ya kalau ada yang membuat kartun seperti itu. Tapi itu kan sebetulnya sudah ada prosesnya ya dan memang tidak ada keterlambatan (pembayaran)," ucap Kamaluddin saat dihubungi Kompas.com, Senin (8/4/2019).

Pihaknya tak ingin membesarkan-besarkan hal tersebut karena menurutnya itu hanyalah opini pribadi.

Baca Juga : Berulah! 2 Selebgram Indonesia Injak Kursi MRT Jakarta yang Belum Beroperasi demi Foto

"Dan ini kan baru di sosmed, jadi kami tidak memberikan komentar resmi kecuali di media resmi kami menyampaikan hak jawab karena hanya di sosmed pribadi. Yang penting semua sudah sesuai proses dan peraturan pinjaman dan kontrak dengan kontraktor," kata dia.

Akan lunas dalam 40 tahun

Kamaluddin menyebutkan, utang Pemerintah Indonesia kepada Jepang untuk pembangunan tersebut akan dibayarkan secara bertahap selama 40 tahun.

ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI

Proyek MRT Jakarta

Tenor pelunasan utang selama 40 tahun dengan masa tenggang atau grace period selama 10 tahun.

Baca Juga : Di Nigeria, Anak Perempuan DiJual Di Facebook Demi Lunasi Hutang Keluarga

Itu artinya, Pemerintah Indonesia baru mulai mencicil pinjaman 10 tahun setelah pinjaman itu ditandatangani.

"Sudah masuk dalam cicilan kan untuk 40 tahun pembayarannya dan sebetulnya sekarang belum masuk dalam pembayaran, masih ada grace period selama 10 tahun, baru nanti tahun ke-10 akan mulai pembayaran," katanya.

Perjanjian utang itu sudah sesuai dengan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Jepang, khususnya JICA.

Baca Juga : Karena Hutang Budi dengan Pengedar Narkoba, Zul Zivilia Terancam Hukuman Mati

"Tidak ada yang namanya keterlambatan pembayaran oleh pemerintah dan MRT Jakarta," kata dia.

Biaya pembangunan MRT

Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan, awalnya pinjaman yang diajukan pemerintah ke JICA untuk Fase I sebesar 123,36 miliar yen atau Rp 14,2 triliun.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, dan Direktur Utama PT MRT Jakarta

Namun, dalam prosesnya terdapat revisi desain guna menambah kemampuan daya tahan gempa, yaitu dari magnitudo 7 menjadi 9.

Baca Juga : Ke Malaysia Menagih Hutang, Bos Tekstil Ini Dibunuh, Diduga Dimutilasi

"Itu (penambahan biaya) yang dinamakan price adjusment dari variatif order karena kontraknya sifatnya design and build. Begitu sambil desain, sambil bangun, di lapangan ada regulasi baru," ungkap Tuhiyat.

Hal itulah yang akhirnya menyebabkan biaya pembangunan Fase I sepanjang 16 kilometer mencapai Rp 16 triliun.

Untuk Fase II, Pemerintah Indonesia meminjam 217 miliar yen atau setara Rp 25 triliun.

Baca Juga : WOW! Rakyat Malaysia Patungan untuk Bayar Hutang Negaranya Terkumpul Rp 695,4 miliar

Di fase II PT MRT Jakarta akan membangun receiving sub station atau gardu induk di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Kendati demikian, biaya yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembangunannya sekitar Rp 22,5 triliun.

"Kenapa Rp 25 triliun? Karena yang Rp 2,5 triliun ini untuk membiayai kekurangan Fase 1," ujar dia.

Dana pinjaman itu kemudian dibagi dua bebannya, yaitu untuk pemerintah pusat sebesar 51 persen dan Pemprov DKI sebesar 49 persen.

Baca Juga : Dituding Dicerai Yeslin Wang Karena Hutang, Delon Akhirnya Mau BIcara!

Bunga yang harus dibayar pemerintah ke JICA pun relatif kecil, yakni hanya 0,01 persen. Hal itu disebabkan, saat pinjaman ditandatangani, commercial bank interest berkisar 3-4 pesen.

"Karena sifatnya tide loan, itu ada persyaratan. Kata Jepang, kontraktor harus dari kami, pemimpinnya Japan Company, enggak ada yang lain. Nah itu yang namanya tide, tapi itu sudah diambil pemerintah," ujarnya.

Setelah proyek ini berjalan, kontraktor yang menagih pembayaran akan dikumpulkan seluruh bukti pekerjaannya.

Baca Juga : Kisah Eka Tjipta yang Sempat Miliki Hutang Senilai Ratusan Dollar Hingga Berhasil Menjadi Orang Terkaya Kedua di Indonesia

Setelah itu, dilakukan proses verifikasi oleh tim gabungan dari MRT, Kementerian Perhubungan, dan Pemprov DKI.

Hasil verifikasi tersebut akan dibawa pemerintah pusat untuk kemudian diserahkan ke pemerintah Jepang melalui JICA.

"Nanti JICA akan verifikasi lagi, lalu dia akan bayar langsung ke kontraktor. Uangnya enggak ada sama kami," kata Tuhiyat. (Ryana Aryadita Umasugi)

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Menjawab Sindiran Komikus Jepang soal Utang MRT Jakarta"

(*)

Tag

Editor : Dewi Lusmawati

Sumber Kompas.com