Statusnya sebagai putri kerajaan, mengharuskan Sri Maya Kerthyasa untuk menikahi pria yang memiliki kasta kerajaan.
Apabila Sri Maya Kerthyasa tidak menyanggupinya, maka gelar putri kerajaan yang ia sandang akan hilang.
Namun, sang putri Bali sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak akan ragu untuk menikahi pria yang ia cintai.
"Ini memang rumit, bagiku, cinta ya cinta. Jika kamu menemukan orang yang kamu cintai, yang asalnya tidak sama atau tidak lebih tinggi dari kastamu, ya tidak apa-apa. Bagiku ini lebih seperti kerugian keluarga," ujar Sri Maya Kerthyasa.

Sri Maya Kerthyasa bersama ayahnya, Tjokorda Raka Kerthyasa pada tahun 1999.
Walau ia mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, namun Sri Maya Kerthyasa merasa emosional saat memikirkan keputusannya akan membuat kecewa banyak orang.
"Aku tidak akan menjadi Tjokorda Sri Maya Kerthyasa lagi. Aku hanya akan menjadi Maya.
Itu tidak menggangguku, yang menggangguku adalah ketika aku berpikir, keputusanku akan membuat orang kecewa," ungkap adik ipar artis Happy Salma ini.
Sri Maya mengungkapkan kecintaannya terhadap kota Sydney, Australia, tempatnya ia bekerja sebagai kuli tinta atau jurnalis kuliner.
"Disini aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bahagia berada disini dan senang karena memiliki kewajiban yang harus kupenuhi disini," ungkap Sri Maya Kerthyasa.