"Gelombang kedua wabah covid-19 yang tidak berperasaan dan sangat kejam ini telah mengamuk di seluruh penjuru negeri dan mengungkap betapa keroposnya negeri kami,"
"Sebagai salah satu produsen obat terbesar di dunia, dan salah satu peradaban manusia yang menjunjung tinggi segala hal di dunia," tulis kepala kampus.
"Klaim para pemimpin yang buta dan kebal terhadap penderitaan dan kematian rakyat menunjukkan kita menjadi ras yang kejam dan tidak peka,"
Mahasiswa tersebut diketahui meninggal dunia sebelum benar-benar bisa merasakan belajar offline di kampus yang sudah dia idam-idamkan.
“Sekitar 8 Mei, Satyam mengalami demam ringan. Ketika dia mulai sesak, kami akhirnya memasukkannya ke NMCH (Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Baru yang dikelola pemerintah) pada 18 Mei, ”kata Shubham.
Saat kondisinya memburuk, keluarga memindahkannya ke Rumah Sakit swasta Sudha di kota.
Baca Juga: Sempat Berseteru dengan Gideon Tengker, Nagita Slavina Berurai Air Mata: Gue Enggak Dekat Sama Bokap
Tapi saat tingkat oksigennya menurun, Jha akhirnya meninggal pada pagi hari tanggal 25 Mei.
“Dia memiliki kekebalan terbaik dari kita semua; bahkan tidak pernah sakit kepala atau pilek, ”kata Shubham, menuduh NMCH dan Rumah Sakit Sudha lalai.
(*)