Laporan Wartawan Gridhot, Desy Kurniasari
Gridhot.ID - Nama Arnold Putra belakangan ini menjadi viral di Twitter.
Pasalnya, desainer muda asal Indonesia itu dikabarkan menggunakan bahan-bahan tak lazim untuk fashion rancangannya.
Salah satu akun Twitter yang membahas mengenai Arnold Putra adalah @BanyuSadewa.
Pemilik akun tersebut mengaku telah mengetahui Arnold Putra jauh sebelum desainer muda itu viral belakangan ini.
Pasalnya, sang desainer muda itu pernah masuk Highsnobiety yang merupakan blog fashion ternama.
"Ngomong2 tentang Arnold Putra yang lagi viral itu, gue sebenernya udah tau dia dari dulu gara2 dia masuk Highsnobiety (blog streetwear fashun hits sejagad raya)," tulis akun Twitter @BanyuSadewa.
Adapun hal yang membuat Arnold Putra menjadi viral adalah bahan utama dari tas buatannya.
Diungkap akun Twitter tersebut bahwa bahan tas buatan Arnold Putra rupanya tak lazim, yakni kulit lidah buaya dan tulang belakang manusia.
"Dan lu tau tas yang dia desain dan dijual di online store streetwear di UK?TAS KULIT LIDAH BUAYA+TULANG BELAKANG MANUSIA!" tambahnya.
Tas tangan tersebut diklaim berasal dari surplus medis di Kanada.
Melansir Antara, hal ini tentu saja membuat kontroversi dan kemarahan para warganet.
Tas tangan yang dijual seharga 5 ribu dolar Amerika atau senilai Rp 78,5 juta ini pertama kali rilis pada tahun 2016.
Tas tersebut berbentuk keranjang dengan pegangan yang terbuat dari sumsum tulang belakang manusia.
Tulang itu pun disebut para ahli merupakan tulang asli yang berasal dari manusia.
Dilansir dari Kompas.com, rupanya Arnold Putra selama ini dikenal sebagai perancang yang hidup dengan gaya flamboyan, penuh dengan perjalanan eksotis, kemewahan, dan selera mode yang tinggi.
Pada akun @byarnoldputra, ditemukan deskripsi yang menyebut, "(Tas) terbuat dari tulang belakang anak yang menderita osteoporosis."
Tentang hal ini, Arnold Putra mengaku kepada Insider bahwa akun tersebut dijalankan oleh orang lain dan dia hanya berkontribusi di dalamnya.
Namun, dia tidak menjawab, meski telah beberapa kali ditanya, apakah tulang belakang benar-benar milik manusia?
Unggahan Arnold Putra
Insider lantas menghubungi dua ahli osteopati anak dan menunjukkan gambar-gambar tas itu kepada mereka.
Keduanya mengatakan hampir pasti itu adalah tulang belakang manusia, meski tidak sepakat jika disebut itu berasal dari seorang anak.
Dan untuk waktu yang lama, tidak ada yang memperhatikan polemik ini.
Baru kemudian pada tanggal 23 Maret, seorang mahasiswa dan kurator berusia 19 bernama Maxim mengunggah hasil tangkapan layar dari akun @byarnoldputra ke akun Twitter-nya @wqbisabi.
Dari sana, kabar ini mulai dibagikan secara luas, sering disertai dengan beragam kecaman dan kemarahan.
Segera, orang-orang mulai membombardir Instagram Arnold Putra, dan distributor karya tersebut, dengan pertanyaan tentang dari mana bahan-bahan itu berasal.
Satu penjelasan datang dari The Unconventional, yang juru bicaranya menjawab pertanyaan WhatsApp yang dibagikan di media sosial, dan kemudian dikonfirmasi sebagai material asli oleh Insider.
"Dia menukar barang-barang suku-suku kuno dengan barang-barang yang dianggap berharga bagi mereka."
Namun, Arnold Putra mengaku kepada Insider, dia tidak bepergian ke daerah kesukuan ketika koleksi ini dibuat.
"Metode saya dalam mengumpulkan material tak terkait dengan perjalanan saya ke tempat-tempat itu," kata dia.
Dia lalu mengaku, tulang belakang itu dia dapatkan dari asupan medis dari Kanada.
Menurut dia, adalah hal yang mungkin untuk membeli tulang manusia dari perusahaan berlisensi.
Perusahaan tersebut biasanya menerima spesimen manusia yang disumbangkan untuk obat-obatan, dan kadang-kadang pula menjualnya sebagai "surplus".
Pada bagian inilah Arnold mendapatkannya.
Namun, dia menolak untuk menunjukkan kontrak jual beli tersebut, dengan dalih dia harus tunduk pada perjanjian non-pengungkapan.
Perancang busana Arnold Putra menuai kontroversi karena tas yang ia buat dari tulang punggung bocah penderita osteoporosis.
Tas itu, kata dia, merupakan bagian dari koleksi yang belum selesai dan melibatkan bahan serupa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pembuatan pakaian.
Sementara, untuk material lidah buaya, dia mengatakan bahan itu adalah produk sampingan dari industri daging dan kulit buaya.
Selain itu, buaya pun tidak masuk dalam kategori hewan yang terancam punah di AS.
"Butuh sedikit percobaan untuk membuat bahan dari lidah agar rata dan cukup kenyal," kata dia.
Menyusul keributan media sosial atas tas itu, Arnold Putra mengunggah konten lewat fitur Instagram Story yang menyebut -entah serius atau bercanda- koleksinya berasal dari sisa-sisa manusia yang telah diplastinasi.
Legalitas pembelian dan penjualan tulang manusia bervariasi di seluruh dunia.
Perdagangan itu legal di banyak negara bagian AS, menurut laman National Geographic.
Pemilik toko, Ben Lovatt, mengatakan kepada Insider, pegangan tas berbentuk tulang belakang tersebut memang tampaknya merupakan spesimen medis atau bagian pengajaran yang sudah tak dipakai.
Dia menambahkan, ada sejarah panjang perdagangan tulang untuk pengajaran, juga untuk tujuan budaya, dan pribadi.
Seorang Juru bicara The Unconventional, yang telah mengiklankan tas yang dibuat dari tulang belakang manusia ini sejak 2016 juga angkat bicara.
Dia mengatakan kepada Insider, "yang akan saya katakan adalah bahwa saya tidak memaafkan penggunaan sisa-sisa manusia nyata."
Produk tas, serta nomor kontak perusahaan, telah ditarik dari situs web perusahaan sejak posting Twitter mendapat perhatian.
Distributor lain, Not Just A Label (NJAL), juga menjadi tempat bagi Arnold menjual karyanya.
Saat ditanya tentang pendirian mereka tentang etika dari karya Arnold Putra, manajer program desain Erica Sabatini berkomentar.
"NJAL adalah platform terbuka bagi para desainer untuk memamerkan desain mereka, dan bebas bagi semua orang untuk membuat akun, NJAL tidak mengganggu atau berinteraksi dengan desainer dalam proses kreatif," kata dia.
Menanggapi kemarahan di dunia maya, Arnold mengatakan, "ini adalah bagian dari proses pembelajaran kreatif yang harus melibatkan oposisi."
"Jika tidak, itu hanya akan menjadi bentuk validasi berulang," tegas dia.
"Saya tidak berniat untuk menjual habis dan akan terus mewujudkan ide-ide saya." Segera setelah tweet dengan tas tersebut tersebar luas, Maxim menghapus unggahannya.(*)