Bandara Narita melayani sekitar 40 juta penumpang dan 250.000 penerbangan dalam setahun.
Dua landasan pacu bandara itu kedua seharusnya melewati tanah Takao Shito.
Tetapi karena Takao berkukuh tidak menjual tanahnya, landasan pacu bandara itu harus didesain sedemikian rupa.
Baca Juga: Bawa Kabur Anak Tetangga, Wawan Perdaya Gadis 14 tahun dengan Modus Ini, Polisi: Korban Percaya!
Menurut sebuah artikel oleh Answer Coalition, Pengadilan Lokal Chiba mengumumkan keputusan yang tidak adil yang memungkinkan eksekusi wajib atas tanah Takao pada 20 Desember 2018.
Tetapi keesokan harinya, Takao memenangkan keputusan pengadilan lain yang memerintahkan penghentian sementara proses eksekusi sampai persidangan di Pengadilan Tinggi Tokyo dimulai tahun berikutnya.
Takao Shito masih merawat pertanian organiknya di tengah Bandara Narita, dan menjual hasil bumi segar kepada sekitar 400 pelanggan.
Bahkan, pandemi Covid-19 tidak berdampak negatif terhadap perekonomiannya.
Sebaliknya, pandemi virus corona membuat penerbangan di Bandara Narita tidak beroperasi.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Seorang Petani yang “Ngeyel” Bertani dan Tinggal di Dalam Bandara Selama 20 Tahun Lebih"