"Dia sempat 6 bulan berada di Indonesia, dan karena begitu baik orang Indonesia dan tanah yang subur indah dia males kembali ke Jepang sebenarnya," lanjutnya sambil tertawa.
Saat ke Jakarta 1998 Profesor Muto juga menemukan kebenaran yang diceritakan ayahnya.
"Ternyata benar. Orang Indonesia sangat baik, sangat kerjasama dengan baik, saling membantu sehingga semua pekerjaan saya di Jakarta saat itu berjalan dengan lancar."
Sang profesor juga mengakui pernah ke Bali saat Sabtu Minggu berada di Jakarta dan menemukan pulau Bali yang sangat indah sekali, tekannya lagi.
Dokter yang sangat baik dan top di Jepang ini kelahiran Kawasaki 8 Maret 1949 dan lulusan universitas kedokteran Niigata pada tahun 1974 dan menyelesaikan Graduate School of Medicine di Niigata University pada tahun 1978, bekerja sebagai ahli bedah di National Yokohama Hospital. Saat mendaftar di rumah sakit, belajar di luar negeri di Departemen Kedokteran Keluarga, Universitas Negeri New York dari 1986 hingga 1988.
Dia juga Presiden Masyarakat Jepang untuk Manajemen Medis, Direktur Perwakilan Masyarakat Obat Generik dan Biosimilar Jepang.
Di pemerintahan Jepang sebagai anggota Kelompok Kajian Informasi Mutu Obat Generik (Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan 2008-) , Anggota Dewan Tindakan Regional Metropolitan Tokyo (Tokyo 2008-2017), Ketua Subkomite Survei dan Evaluasi Perawatan Medis Rawat Inap (Chuikyo 2012-2018), Anggota Spesialis Kelompok Kerja Perawatan Medis Kantor Kabinet Jepang sejak 2019.
Penerbitan publikasi medisnya mungkin sudag ratusan banyaknya. Hobinya tenis, renang, ski serta memiliki 3 anak saat ini.
Profesor Muto juga menasehatkan agar setelah di vaksinasi anti corona dua kali saat ini, kalau bisa dilanjut kan setiap tahun selama 3 tahun mendatang.
"Apabila jumlah yang divaksinasi sudah 80% penduduk Jepang, maka tingkat penularan corona mungkin akan mengalami penurunan dan situasi akan kembali normal kembali."