Penembakan terhadap Brigadir Yosua diketahui dilakukan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga No 46, Jakarta Selatan.
"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.
Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.
Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.
Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.
"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa.
Dilansir dari tribunjakarta.com, keluarga Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara pembunuhan berencana dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (1/11/2022).
Total ada 12 saksi yang dihadirkan dalam sidang hari ini, termasuk kedua orangtua Brigadir J, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjutak.
Kemudian, kakak Brigadir J, Yuni Hutabarat, sang adik Devi dan Mahareza Hutabarat, serta sang kekasih korban Vera Simanjutak.
Para bibi korban Roslin Simanjutak, Rohani Simanjutak dan Sangga Sianturi juga menjadi saksi.
Kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak, mengatakan pihaknya membawa barang bukti yang akan ditunjukkan kepada Majelis Hakim.