Kecewa dengan tindakan otokratik Orde Baru Pemerintahan Presiden Soeharto, selama Pemilu 1997, Ratna Sarumpaet bersama grupnya memimpin protes pro-demokrasi.
Ia melahirkan naskah pementasan orisinial pertamanya dengan judul "Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah" tahun 1994.
Tidak spesifik menyoroti Marsinah, tetapi mengenai nasib orang-orang yang diberlalukan tidak adil yang menuntut hak pada pihak berkuasa.
Baca Juga: Puluhan Tahun Berlalu, Terungkap Misteri Penyebab Kematian Mantan Ibu Negara, Tien Soeharto
Pertunjukan teater Marsinah dipentaskan di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 16-19 September 1994.

Roh Tokoh yang diperankan Ratna Sarumpaet, prihatin pada ketidakadilan di muka bumi. sumber Tabloid
Setelah berlarut-larut, Kepala Kepolisian RI menutup kasus itu dengan alasan DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi.
Tak lamasetelah penutupan kasus, ia menulis monolog "Marsinah Menggugat" (1997) untuk dipentaskan ke sebelas kota di Jawa dan Sumatera.
Monolog ini kemudian dianggap sebagai karya provokatif dan tak jarang dibubarkan oleh pasukan anti huru-hara di beberapa kota saat dipentaskan.
Pada Maret 1998, Ratna Sarumpaet ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara lantaran menyebarkan kebencian.
Setelah 70 hari dalam kurungan penjara, barulah Ratna Sarumpaet dibebaskan.