"Pada 2002, Rusia ingin tanah kami digunakan untuk meluncurkan satelit, kami menolak dengan keras, sekarang milyader Amerika juga menginkannya," Kata Sroyer.
Sroyer mengatakan banyak penduduk suku Papua di Pulau Biak ingin memprotes proyek peluncuran roket miliarder Elon Musk.
Namun, mereka takut dengan tanggapan dari pihak berwenang.
Menurut perhitungan Jakarta, mengubah Biak menjadi "pulau kosmik" akan membantu penduduk pulau menjadi kaya dengan cepat.
Pulau Biak juga kaya akan sumber daya tembaga dan nikel.
Ini adalah bahan bakar penting untuk membangun roket dan sel energi untuk mobil listrik Tesla yang didirikan miliarder Elon Musk.
Presiden Indonesia Joko Widodo secara khusus menyambut baik investasi miliarder AS tersebut dalam pembangunan pabrik mobil listrik di Biak.
Jika proyek tersebut menjadi kenyataan, Indonesia akan menjadi produsen kendaraan listrik terkemuka di Asia Tenggara.
Namun, miliarder Elon Musk juga mencatat bahwa dia hanya setuju untuk menandatangani kontrak investasi yang "besar dan menarik" dengan Indonesia.
Jika negara tersebut memastikan bahwa proyek tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap lingkungan.