Ini aneh, di luar tradisi. Biasanya yang datang melamarkan adalah utusan Keraton. Bukan rajanya sendiri yang langsung turun tangan.
Kemudian saya timbang-timbang. Sultan Hamengku Buwono IX datang sendiri dengan alasan praktis saja.
Yakni, karena saya hidup di Jakarta, dan pada saat itu beliau juga menetap di Jakarta sebagai pejabat tinggi negara.
Beliau datang tanpa pengawal, tanpa ribut-ribut yang menarik perhatian tetangga.
Setelah itu, beberapa waktu kemudian, datang rombongan yang lebih besar, yakni saudara-saudara Mas Herjuno.
Mereka datang sebagai utusan, membawa benda-benda simbol yang diperlukan untuk upacara lamaran dari Keraton Yogyakarta.
Sang pembeli bakmi
Tentang pacaran? Terus terang kami secara intensif tidak melewati masa tersebut. Kami berkenalan tepat di belakang tembok Keraton Kilen (bangunan besar yang terletak di komplek Keraton bagian barat. Red).
Di belakang tembok itu ada kampung namanya Suronatan, tempat Eyang saya tinggal. Saya dan keluarga setidaknya setahun sekali datang ke Yogya untuk berlibur atau nyekar (berziarah, Red) ke makam leluhur atau melakukan keperluan lain.
Kami menginap di rumah Eyang. Untuk mencapai rumahnya harus melewati gang.